Showing posts with label berita bursa. Show all posts
Showing posts with label berita bursa. Show all posts

Tuesday, January 24, 2012

ENRG - KINERJA EMITEN: Penjualan Energi Mega tumbuh 122%

>> Bisnis Indonesia

KINERJA EMITEN: Penjualan Energi Mega tumbuh 122%

Large_dgs_5473

Berita Terkait


JAKARTA: PT Energi Mega Persada Tbk, emiten minyak dan gas (migas) menargetkan penjualan tumbuh lebih dari 122% atau lebih dari Rp4 triliun karena mendapatkan tambahan produksi dari blok Offshore North West Java PSC (ONWJ), blok Kangean, dan blok Bentu.
 
Direktur Energi Mega Persada Didit A. Ratam mengatakan pertumbuhan penjualan perseroan yang relatif tinggi itu salah satunya dikontribusikan dari penjualan ONWJ yang diperkirakan mendekati US$300 juta.
 
“Penjualan ONWJ tahun lalu US$256 juta, sedangkan tahun ini tumbuh tapi tidak sampai US$300 juta. Namun itu cukup untuk mendongkrak penjualan perseroan hingga lebih dari Rp4 triliun setelah
dikonsolidasikan dengan ONWJ,” jelasnya hari ini, Jumat, 20 Januari 2012.
 
Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino mengatakan penjualan perseroan dapat tumbuh dua kali lipat karena rata-rata produksi perseroan ikut melonjak dari 16.600 barrel ekuivalen per hari menjadi 40.000 barrel ekuivalen per hari.
 
“Bahkan, puncak produksi kami bisa mencapai 60.000 barrel per hari setelah Kangean dan Bentu mulai berproduksi pada Mei tahun ini,” jelasnya.
 
Saat ini cadangan perseroan mencapai 576 juta barrel terdiri dari 90% gas dan 10% minyak. Cadangan itu naik 8,4% dari posisi akhir tahun 2010 sebanyak 531 juta barel. (LN)

Sunday, October 9, 2011

Bton : Prospek saham BTON

Berita saham beton

 
 
 
 
 
 
Rate This
INILAH.COM, Jakarta – PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) akan menambah satu unit mesin produksi dengan kapasitas terpasang 15.000 ton per tahun.
Demikian dikutip dari keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Rabu (15/6). Saat ini pemasangan mesin telah mencapai kurang lebih dari 60%. Perseroan mengharapkan bulan September 2011 mulai dapat dioperasikan secara normal. Hal ini dapat mendukung pasokan perseroan saat harga baja dunia bergerak fluktuatif.
Perseroan optimistis serapan pasar akan besi beton domestik masih sangat besar pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang sehingga dapat memberikan marjin perseroan.

Tuesday, October 4, 2011

Pasar Modal : Gawat.. Seiring Asia, IHSG Rontok 2,3%

Gawat.. Seiring Asia, IHSG Rontok 2,3%
Headline
inilah.com
Oleh: Wahid Ma'ruf
Pasar Modal - Selasa, 4 Oktober 2011 | 16:09 WIB
INILAH.COM, Jakara - Bursa saham Indesia ditutup melemah hingga 79,26 poin atau 2,3% ke 3.269,45. Volume perdagangan mencapai 4,4 miliar saham senilai Rp4,5 triliun.

Perdagangan diwarnai dengan 205 saham turun, 44 saham naik dan 55 saham stagnan. IHSG mengalami net forign sell hingga Rp459,7 miliar dengan penjualan asing mencapai Rp1,9 triliun dan pembelian asing sebesar Rp1,4 triliun.

Indeks JII turun 9,5% ke 452,46, indeks ISSI turun 2,06 poin ke 106,64 dan indeks LQ45 turun 14,7 poin ke 569,46. Pelemahan terdalam dalami sektor pertambangan hingga 117,01 poin ke 2.221 disusul sektor perkebunan yang turun 41,31 poin ke 1.828,23.

Pelemahan IHSG mengikuti bursa Asia yang memerah seperti indeks Hang Seng turun 3,45 ke 16.250, indeks Nikkei turun 1,05% ke 8.456, indeks Shanghai turun 0,25 ke 2.359 dan indeks ASX turun 0,65 ke 3.872,10.

Bursa Eropa juga melemah tertekan sektor perbankan seperti indeks FTSE turun 2,1% ke 4.967, DAX turun 2,7% ke 5.230 dan indeks CAC turun 2,4% ke 2.855.

Indeks tertekan seiring pelemahan bursa regional dan bursa Eropa yang melanjutkan pelemahan Senin kemarin. Level terendah hari di 3.256,44 dan level tertinggi di 3.352,40.
Saham yang melemah seperti saham GGRm turun Rp1.400 ke Rp51.100, PTBA turun Rp1.300 ke Rp14.400, ITMG turun Rp1.200 ke Rp34.600, UNTR turun Rp800 ke Rp19.350, INTP turun Rp700 ke Rp12.000, BYAN turun Rp600 ke Rp20.350, HRUM turun Rp600 ke Rp6.050, SMMA turun Rp500 ke Rp4.000, BFIN turun Rp400 ke Rp5.400, MBAI turun Rp400 ke Rp13.800, SCMA turun Rp350 ke Rp5.350, HMSP turun Rp29.200.

Sementara saham yang menguat seperti IMAS naik Rp550 ke Rp10.600, FAST naik Rp450 ke Rp9.250, TPIA naik Rp250 ke Rp3.500, MYOR naik Rp150 ke Rp12.150, SMDR naik Rp100 ke Rp3.300, BRNA naik Rp60 ke Rp1.850.

Monday, October 3, 2011

IMF: Krisis 2011 lebih berbahaya

IMF: Krisis 2011 lebih berbahaya
Ekonomi & Bisnis
WASPADA ONLINE

WASHINGTON - Dana Moneter Internasional atau International Monetery Fund (IMF) mengatakan, sistem keuangan global saat ini lebih rentan daripada krisis yang terjadi sebelumnya pada 2008.

Risiko untuk bank-bank dan pasar keuangan telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Krisis utang Eropa, mempengaruhi sistem perbankan ke titik di mana bank dapat menarik kembali pinjaman untuk menghemat uang.

Para pemimpin Eropa harus cepat melaksanakan kesepakatan yang dicapai pada Juli dan menyediakan dana talangan dengan fleksibilitas yang lebih. Sementara Amerika Serikat (AS) dan Jepang, harus memulai fase dalam langkah-langkah untuk mengurangi defisit mereka.

"Risiko meningkat, sementara waktu untuk mengatasi kerentanan yang mengancam sistem keuangan global dan pemulihan ekonomi yang berlangsung semakin sempit," ungkap IMF, seperti dikutip dari Associated Press, hari ini.

Adapun pada akhir pekan ini, 187 negara akan mengadakan pertemuan di Washington. Pertemuan ini, akan dihadiri oleh Menteri keuangan serta gubernur bank sentral dari seluruh dunia.

IMF sendiri telah mendesak para pemimpin Eropa untuk menyelesaikan masalah keuangan, yang saat ini menjadi ancaman utama bagi perekonomian global. Selain itu, pertengkaran politik antara pemimpin Eropa, telah mengganggu kemampuan wilayah itu untuk mencapai solusi yang berkelanjutan.

Selain itu, bank-bank Eropa yang memegang sejumlah besar obligasi Yunani dan pemerintah lainnya yang bermasalah, harus meningkatkan cadangan modal mereka. Itu akan melindungi mereka dalam kasus obligasi atau juga bisa melindungi Yunani dari default.

Bagaimanakah nasib Dow Jones dan IHSG dalam kuartal keempat tahun ini?

Bagaimanakah nasib Dow Jones dan IHSG dalam kuartal keempat tahun ini?

sumber : kontan online
Pertama-tama saya langsung ingin menyampaikan bahwa saya tetap berpendapat kondisi perekonomian akan menjadi lebih buruk dulu sebelum agak sedikit membaik pada akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012.  Selain itu, dalam artikel ini saya juga ingin mengajak Anda untuk bersikap kritis maupun skeptis agar mempunyai pengertian yang lebih luas mengenai berbagai ancaman yang dapat menekan bursa saham dunia dalam jangka menengah-panjang.
Mari kita melihat terlebih dahulu mengapa bursa saham AS, Eropa dan Asia belum mampu untuk bangkit kembali sampai saat ini:
  • Resiko bahwa negara maju akan mengalami RESESI lagi makin hari makin tinggi.  Bahkan “a recession is at this point unavoidable,” demikian NYU Professor Nouriel Roubini menulis. Coba renungkan saja apakah perekonomian dunia cenderung membaik atau memburuk belakangan ini?  Hanya hal yang paling gawat adalah: Apakah pelambatan ini tidak akan terlalu tajam atau justru lebih parah daripada krisis keuangan sebelumnya selama 2008-09? Kini indeks manufaktur maupun jasa Eropa terkontraksi untuk pertama kali dalam 2 tahun terakhir.  Di samping itu Jepang dan Cina pun kembali terbenam di zona kontraksinya (atau di bawah 50), yang memberikan indikasi bagi pelaku pasar perdagangan internasional mulai terhambat.  Karena Uni Eropa merupakan ekonomi terbesar di dunia dan Cina sangat bergantung kepada ekspor, jangan heran banyak orang bertanya-tanya apakah data tersebut bisa diperlakukan sebagai pendahuluan untuk sebuah resesi global. Maka perhatikan dengan seksama data manufaktur AS yang akan dirilis pada malam hari ini.  Apabila sektor manufaktur di AS ternyata ikut terkontraksi, berarti keempat perekonomian terpenting – yang mewakili lebih dari 50% PDB dunia – sedang melemah!
  • Investor kecewa the Fed hanya mengumumkan ‘Operation Twist’, yang sama sekali tidak menambah likuiditas ke sistem keuangan.  Selanjutnya, pelaku pasar juga bertambah bearish setelah membaca pernyataan dari bank sentral AS yang mengakui bahwa ada “significant downside risks” in the economy.  Jadi pada akhirnya “the market’s reaction is like a child throwing a tantrum after not getting what it wanted from daddy,” pedagang emas Hal Paxton menyindir dengan tepat pada tanggal 22 September lalu. Tetapi … meskipun segala tindakan dari the Fed (seperti menurunkan tingkat suku bunga ke 0% hingga 0,25% dan mencetak uang untuk QE1 maupun QE2) tidak berhasil memulihkan kondisi perekonomian, apakah Anda benar-benar berkeyakinan mereka akan berhenti mencobanya?  Tentunya tidak, Chairman Ben Bernanke pada saat ini hanya menunggu alasan yang tepat untuk memberikan pelonggaran moneter berikutnya, mengingat QE2 dianggap gagal. Kira-kira dalih apa yang dibutuhkan oleh anggota FOMC untuk bertindak lagi?  Apakah itu bursa saham yang anjlok, pertumbuhan Produk Domestik Bruto yang menurun drastis, atau keduanya secara bersamaan?
  • Stimulus moneter di CINA tertahan untuk sementara waktu sebab Negeri Tirai Bambu masih menghadapi inflasi yang tinggi, suatu bubble di pasar properti dan negative real interest rates.  Bahkan berhubungan suku bunga riil begitu rendah, jumlah deposito di 4 bank terbesar Cina telah menyusut senilai 420 milyar yuan atau $65.7 billion dari 1 hingga 15 September lalu. Selain itu, transaksi tanah dalam 133 kota jatuh 14 persen pada Agustus MoM, dan harga rumah baru turun pada 16 dari 70 kota menurut data pemerintah.  Pendek kata, Zhang dari Nomura mengatakan, “We’re reaching a tipping point where land sales are dropping much faster than before, developers are losing more access to bank financing, and housing prices are showing weakness.” Apakah ini merupakan tanda bahwa pasar properti di Cina akan crash seperti di Amerika Serikat, dan menyebabkan sebuah “domino effect” dimana makin banyak property developers memangkas harga jual mereka untuk memperoleh uang tunai?  Sebagai buktinya, harga tanah di ibu kota Beijing merosot 76% pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya sementara di Guangzhou harganya anjlok 53 persen, menurut Soufun Holdings Ltd. yang mempunyai real-estate website terbesar di Cina!
Kekisruhan menghantam Eropa
“The cancer that is Europe and the European banking system continues. They don’t understand how to play the game that they have brought themselves into and so they are going to flail until somehow the market forces them to either print money to kick the can down the road or implode.”
-Bill Fleckenstein, President of Fleckenstein Capital-
Kini ada dua kelompok di Uni Eropa: negara yang menerapkan kebijakan fiskal yang cukup ketat (seperti Jerman, Belanda maupun Finlandia), dan negara yang cenderung terlalu boros dari segi pengeluaran pemerintahnya (seperti the PIIGS).  Maka jangan terkejut apabila kadang-kadang ke-17 negara anggota Uni Eropa tidak selalu sepaham tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk menyelesaikan krisis hutang yang sedang berlangsung.
Menurut hemat saya, belakangan ini justru muncul makin banyak pertanyaan dari pada jawaban yang konkret ataupun penanganan yang komprehensif dan mendasar mengenai hal tersebut.  Coba saja untuk menjawab atau memecahkan beberapa problematis berikut ini:
  • Apabila Yunani default atas hutangnya yang bernilai sekitar $500 billion, apakah itu akan terlaksana dengan cara yang rapi atau malahan meningkatkan tekanan terhadap sistem perbankan di Eropa?  Dan … apakah sebuah DOMINO EFFECT dapat menjatuhkan negara yang lainnya, seperti Portugal, Irlandia, Spanyol, Italia, Belgia dan bahkan Prancis?
  • Lembaga pemeringkat S&P belum lama menurunkan credit rating Italia menjadi A dari A+ akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya biaya pinjaman yang akan membuat kesulitan bagi Italia.  Bukankah yield atas obligasi pemerintah akan makin tinggi kedepan apabila peringkat hutang makin diturunkan?  Dan … apakah itu tidak akan makin membebani perekonomian terbesar ketiga di Eropa?
  • Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schauble mengatakan pada Selasa pekan lalu bahwa penggalangan dana bailout zona euro adalah “ide yang konyol,” dan akan memicu beberapa negara di kawasan ini bisa kehilangan rating AAA mereka. Lalu ketika berbicara tentang memanfaatkan Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa atau European Financial Stability Facility (EFSF) untuk publik dua pekan lalu, lembaga pemeringkat kredit Standard & Poor’s memperingatkan bahwa langkah tersebut bisa memicu penurunan peringkat untuk Jerman dan Prancis.  Sebagai buktinya, kekhawatiran mengenai resiko sistemik dan penularan telah mendorong harga default insurance atau CDS untuk hutang pemerintah Jerman maupun Prancis ke level tertingginya.
  • Pembuat kebijakan di Uni Eropa sedang mempertimbangkan untuk “leverage up” EFSF agar cukup besar untuk mengatasi pembiayaan Spanyol dan Italia jika dibutuhkan.  Pada saat ini, the EFSF telah mengucurkan setidaknya 142 milyar euro dalam bailout dari Yunani, Irlandia dan Portugal.  Dengan demikian, hanya 298 milyar euro tersisa dalam dana penyelamatan sebesar 440 milyar euro. Kemudian menurut estimasi terakhir, suatu bailout package untuk Spanyol dapat bernilai hingga 290 milyar euro sedangkan untuk Italia sekitar 490 milyar euro.  Maka sebuah pelipatgandaan dari EFSF sangat diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan investor. Namun dari mana uangnya berasal untuk menaikkan firepower atau amunisi dari EFSF?  Apakah lewat the European Central Bank (ECB) dengan mencetak uang baru, atau dari masing-masing negara anggota Uni Eropa?  Dan … apakah langkah tersebut akan efektif atau malahan menciptakan lebih banyak masalah lagi?
  • Bank Eropa kedepan perlu direkapitulasi dengan puluhan milyar euro untuk meyakinkan kembali pasar bahwa sebuah default dari Yunani atau Portugal misalnya tidak akan mempercepat sebuah krisis keuangan sistemik.  Sebagai contohnya, terutama bank besar di Prancis seperti Crédit Agricole dan Société Générale memiliki banyak sekali “hutang beracun”, dan dengan $3.6 trillion aset diantara mereka merupakan yang terbesar di dunia.
  • Di satu sisi, spekulasi bahwa ECB kemungkinan akan memangkas suku bunga untuk mendongkrak perekonomian mulai muncul setelah Ewald Nowotny, anggota Dewan Kehormatan ECB, mengatakan bahwa langkah pelonggaran moneter tidak dapat dikesampingkan. Hal ini memunculkan spekulasi kemungkinan dilakukan pemangkasan 50 basis poin pada sidang ECB 6 Oktober mendatang.  Namun … di sisi lain data inflasi atau CPI di Jerman untuk bulan Agustus ternyata naik ke 2,8% dan dengan demikian mencetak level tertingginya sejak bulan September 2008.  Oleh karena itu, sungguh tidak akan mudah untuk menurunkan tingkat suku bunga dengan inflasi yang setinggi itu!
  • Akhirnya banyak orang belakangan ini menyerukan bahwa Uni Eropa, yang merupakan suatu economic and monetary union of countries, sebaiknya menjadi sebuah debt union.  Artinya setiap orang Jerman misalnya terpaksa menanggung hutang Yunani dan sebagainya.  Apakah, menurut Anda, hal itu akan diterima begitu saja atau justru berpeluang memicu sebuah revolusi demokratis yang menolak penambahan hutang secara terus-menerus?
Nah, apakah sekarang sudah makin bingung atau makin percaya bahwa krisis hutang ini akan segera terselesaikan?  Jika yang pertama, berarti saya berhasil menunjukkan kepada Anda bahwa perjalanan yang berat ini masih akan panjang kedepan.
Apakah sentimen yang bearish dapat menopang bursa saham?
John Gray dari Investors Intelligence membuat analisa yang sangat cermat mengenai sentimen di pasar akhir-akhir ini:
“Normally when you start to see the number of bears exceed the number of bulls, and we have seen that by a modest margin the past three weeks, that generally signals the end of a correction or at least the area of a bottom.  That is also what we saw at the end of August, 2010, after about three and a half months of sideways trading at that time.”
“We have currently had about two months of that sideways action, although it has taken place after a more significant decline than we saw in the spring of 2010.  So it’s possible that we could develop a greater period of bearishness, especially since we don’t have the likelihood of the stimuli that we had last September, which pushed the markets up so sharply.”
“So we could see another test of the recent index lows and if they break below those levels, then we would see an even greater shift towards bearish pessimism, which would most likely cement a low and set up, at the very least, a tremendous counter-trend rally or larger market advance.”
Seperti dapat Anda lihat pada Advisors Sentiment indicator dari Investors Intelligence diatas ini, kini jumlah bears mengungguli jumlah bulls, yaitu 40,9% dibandingkan 37,6%.  Maka John Gray menyimpulkan:
“Although this type of market action is typical, with the current levels of pessimism, you often see one last leg of selling to the downside to shake out the people who had been expecting a rebound.  Of course, that selling crescendo would also be accompanied by an increase in bears and that’s exactly what happened at the end of 2010.  At that time the bulls also dropped below the 30% level for the first time since April of 2009.”
“We currently haven’t had as many people bearish as we had last summer (when you look at the above chart), so that’s what I’m talking about when I say we could have one more leg down for these markets.”
Technical outlook
Apabila Anda meneliti grafik harian dibawah ini dengan seksama, Anda pasti langsung akan melihat descending triangle yang terbentuk secara sempurna.  Support dari segitiga tersebut kini terletak di sekitar 10600 sedangkan resistance turun terus seiring dengan downtrend line yang menahan setiap rebound.
Pada umumnya suatu descending triangle akhirnya memecahkan support-nya, dan hanya merupakan sebuah pit stop atau konsolidasi sebelum harganya berlanjut menurun.
Grafik disamping ini, yang saya pernah tampilkan sebelumnya dalam salah satu artikel, menunjukkan bahwa target koreksi adalah sekitar 9055 berdasarkan pola bendera yang sudah ditembus ke bawah.  Jadi jangan lupa untuk memperketat stop loss apabila Anda mempunyai posisi beli di Asian stock indices atau memiliki saham di BEI yang Anda memperdagangkan dalam jangka pendek.








IHSG pun sedang membentuk lower highs dan lower lows, maka trennya untuk saat ini tetap jelas turun (lihat daily chart dibawah ini).  Orang yang mengatakan sebaliknya perlu dihindari dan benar-benar tidak memahami bagaimana caranya menginterpretasikan sebuah grafik.
Kemudian pertanyaan yang selalu muncul adalah, “Apakah koreksi ini telah selesai atau bursa saham Indonesia masih dapat melemah lebih lanjut?”  Mungkin saya harus mengecewakan sebagian orang yang membaca artikel ini, tetapi IHSG memang berpeluang menuju ke sekitar 3000 terlebih dahulu, yang merupakan 38.2% fibonacci retracement dari kenaikan sebelumnya dari 1089.340 hingga 4195.724 (lihat grafik dibawah ini).
Meskipun demikian, saya berpendapat bahwa gelombang jual pada bulan Oktober dan/atau November akan mengakhiri penurunan dalam jangka menengah dan membentuk sebuah medium-term low.  Maka apabila Anda sedang mencari entry point yang bagus untuk mengakumulasi (indeks) saham, kemungkinan Anda tidak akan perlu menunggu terlalu lama lagi.
Prediksi sampai dengan semester pertama 2012
Berdasarkan fakta dan data ekonomi yang terkini, saya akan coba memberanikan diri untuk membuat suatu skenario yang kemungkinan akan terjadi dalam beberapa kuartal yang akan datang:
  • Apabila terjadi sebuah CRASH di bursa saham dunia dalam dua bulan kedepan, the Fed – bersamaan dengan ECB, BoE, BoJ dan SNB – mungkin secara tergesa-gesa akan kembali menerapkan program quantitative easing.  Kemudian negara-negara yang tergabung dalam G20 telah sepakat untuk melindungi stabilitas pasar finansial dan bank-bank sentral siap untuk menyediakan likuiditas yang dibutuhkan perbankan.  Rencana aksi itu akan disiapkan pada pertemuan pemimpin G20 di Cannes, Prancis pada 3-4 November mendatang, jadi tandai tanggal tersebut pada agenda Anda!
  • Setelah bank sentral dan pembuat kebijakan bereaksi terhadap krisis hutang publik maupun pelambatan perekonomian dunia, baik dengan mencetak uang dalam jumlah yang (sangat) besar dan/atau pemangkasan tingkat suku bunga (di Eropa dan Australia?), saya memperkirakan harga aset beresiko seperti saham, komoditas dan mata uang Asia akan kembali menguat.
  • Namun penguatan tersebut kemungkinan tidak akan bertahan terlalu lama, dan paling telat semester kedua 2012 saya berpendapat kita akan memasuki masa yang kelam yang akan (jauh) lebih buruk daripada krisis keuangan selama 2008-09.  Nanti akan saya menulis secara detil dan mendalam mengenai “the Greater Depression” ketika saya mengulas outlook untuk tahun 2012.
Untuk menutup artikel ini saya ingin menambah beberapa paragraf dari salah satu penulis favorit saya, yaitu Bill Bonner dari The Daily Reckoning:
“Every bailout makes the world poorer.  Because it’s clearly bad money after good.  Greece does not suddenly become a good credit risk just because you lend it more money.  And Americans won’t be made richer because the feds offer them more debt at an even cheaper rate!”
“The problem is that doing more of something that doesn’t work is not a good idea.  When you lose money on every sale you can’t make it up on volume!  Nor is it a good idea to put more money into an investment that isn’t paying off … or to allocate more resources to an industry that stopped producing real benefits a generation ago.”
“They want to continue to bailout, subsidize, give credit where it isn’t due, and otherwise funnel huge amounts of money to worn out, unproductive institutions.  And for what?  So they can avoid “a catastrophic collapse.”
“Well, here at The Daily Reckoning we say ‘bring it on.’  Let’s have that catastrophic collapse and get it over with.  Better now than later.  It will only be worse if it is postponed.”
Seperti biasa, hope for the best but prepare for the worst.  Selamat berinvestasi di bursa saham Indonesia dan/atau indeks saham AS maupun Asia, dan semoga sehat dan sukses selalu!

Laba Bton naik 24.17 %

Laporan Keuangan Semester I-2011
Laba BTON Terkerek 24,17%
Headline
nme.com
Oleh: Charles MS
Pasar Modal -
INILAH.COM, Jakarta - PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 24,17% menjadi Rp5,96 miliar pada Semester 1-2011 dari Rp4,8 miliar pada periode serupa 2010.

Kenaikan laba bersih Semester 1-2011 ini disebabkan adanya peningkatan laba usaha menjadi Rp8,83 miliar dari Rp6,67 miliar pada Semester 1-2010. Sementara, beban usaha turun dari Rp2,08 miliar menjadi hanya Rp1,87 miliar.

Penjualan Perseroan Semester 1-2011 juga mengalami kenaikan menjadi Rp68,19 miliar dari Rp63,82 miliar pada periode serupa 2010. Perseroan juga mencatatkan kewajiban sebesar Rp16,68 miliar pada Semester 1-2011, sedang ekuitasnya sebesar Rp79,17 miliar.

Bursa asia rontok


Stock News :


General News  


Bursa Asia Rontok, Harga Minyak Turun
SINGAPURA--MICOM: Harga minyak mentah turun menyusul harga saham yang mengalami pelemahan di perdagangan Asia Senin karena penguatan greenback telah membebani pasar minyak.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet pengiriman November turun 50 sen ke posisi US$78,70 per barel. Sementara harga minyak mentah Brent North Sea penyerahan November juga turun 77 sen menjadi US$101,99 per barel.

Saham-saham Asia memimpin pasar minyak mentah melemah karena para pedagang lebih memilih dolar AS sebagai tempat berlindung yang aman di tengah pesimistis ekonomi global.

"Pasar global masih terus mengkhawatirkan seputar pertumbuhan ekonomi terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Karena kekhawatiran atas pasar global," kata Victor Shum, prinsipal senior konsultan energi Purvin and Gertz yang berbasis di Singapura, Senin (3/10).

Bursa Asia terkemuka mencatat penurunan tajam pada awal perdagangan Senin (3/10). Bursa Tokyo dan Hong Kong masing-masing mengalami pelemahan 1,52 dan 3,03 persen karena kecemasan tentang utang Eropa.

Terutama setelah Yunani mengatakan defisit anggarannya meleset dari target Dana Moneter Internasional (IMF) dan Uni Eropa. (Ant/OL-9)


http://www.mediaindonesia.com/read/2011/10/03/264919/20/2/Bursa-Asia-Rontok-Harga-Minyak-Turun

Sumber : MEDIA INDONESIA

Monday, September 12, 2011

koreksi bursa dunia

Waspadai koreksi lanjutan di bursa saham dunia (Part 2)

Sumber
 : kontan online

September 12th, 2011 nico Leave a comment Go to comments

“On August 17 the S&P 500 Index 50-EMA crossed down through the 200-EMA, declaring by our definition that the long-term trend was down and that we were in a bear market. When this happens, we remind ourselves that “bear market rules apply,” and that we should expect negative outcomes more often than positive ones.”

-Carl Swenlin, DecisionPoint-

Seperti saya berjanji pekan yang lalu, dalam part 2 atau bagian kedua dari artikel ini akan saya bahas kondisi teknikal bursa saham, baik untuk Amerika Serikat dan Indonesia. Disamping itu, saya juga akan coba memberikan rekomendasi investasi untuk 6 bulan hingga setahun kedepan dan memberitahu caranya bagaimana Anda dapat mengamankan portofolio Anda terhadap ketidakpastian yang makin meningkat.

Banyak orang bertanya kepada saya mengapa saya cenderung bearish terhadap arah pergerakan bursa saham dunia dalam jangka menengah-panjang. Pada dasarnya pertimbangan saya cukup sederhana, yaitu memburuknya data ekonomi di negara maju (Amerika Serikat, Eropa, Inggris dan Jepang) maupun kondisi teknikal dari mayoritas bursa saham – terutama bursa saham AS – mengindikasikan lajunya kedepan kemungkinan akan agak tertahan.

Saya mengakui bahwa memang lebih enak untuk membayangkan bahwa situasinya tidak seburuk itu, tetapi kita juga perlu menyadari suatu pemulihan ekonomi tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat. Bahkan jika krisis hutang publik dan perbankan di Eropa tidak dapat diatasi dengan cara yang rapi, kejatuhan bursa saham dunia yang kita saksikan pada bulan Agustus mungkin hanya merupakan sebuah pemanasan untuk penurunan tajam yang menanti kita.

Apakah the bears akan mengalahkan the bulls?

“In our view, the Federal Reserve’s money printing is the main reason the S&P 500 just about doubled from March 2009 through June 2011. Now that the Fed has stopped goosing the markets, stock prices have tanked. We do not see any source of money to take stock prices higher.”

-market research firm TrimTabs-

Pertama-tama saya ingin menampilkan beberapa grafik yang membuktikan bahwa the technical damage di bursa saham AS sungguh parah. Misalnya dalam grafik dibawah ini, saya mempergunakan data bulanan untuk menunjukkan the primary trend atau tren utama/jangka panjang.

Ada dua hal yang sangat menarik pada grafik ini:

Moving Average Convergence Divergence (MACD) baru saja membentuk sebuah dead cross atau MACD line berpotongan signal line dari atas ke bawah, yang ditunjukkan oleh panah yang merah. Pada umumnya ini merupakan suatu sinyal yang bearish, apabila bursa saham tidak segera dapat bangkit dalam beberapa pekan kedepan. Pada tahun 2007 pun MACD memberikan peringatan dini, yang membantu investor dalam menghindari pelemahan yang dahsyat hingga kuartal pertama 2009, jika mengikutinya dengan baik.
Di bawah saya memperlihatkan a simple 12-month rate of change (ROC) indicator, yang kembali menunjukkan sebuah bearish divergence untuk ketiga kalinya, setelah sebelumnya juga muncul dari tahun 1997 hingga 1999 dan 2004 hingga 2007. Lalu perlu dicatat pula bahwa suatu ROC line di bawah nol memaparkan downtrends seperti pada tahun 2000-2003 dan 2008-2009. Kini ROC makin mendekati the zero line, jadi perhatikanlah indikator ini dengan seksama untuk menentukan apakah bull market akan bertahan atau tidak.

Kedua grafik dibawah ini pun membuktikan bull market, yang berlangsung dari kuartal pertama 2009 sampai kuartal kedua 2011, kemungkinan sudah berakhir. Coba melihat grafik mingguan dari Dow Jones di bawah ini terlebih dahulu.

Ketika terjadi koreksi selama kuartal kedua 2010, pada waktu krisis hutang publik di Yunani untuk pertama kali mulai terkuak, indeks saham AS utama ini hanya turun sampai 38.2% fibonacci retracement yang berada di sekitar 9400. Namun, pelemahan bursa saham AS belakangan ini – yang berawal sesaat sesudah QE2 dihentikan – jauh lebih dalam dibanding tahun yang lalu (lihat grafik dibawah ini).

Kali ini koreksi telah melampaui 61.8% fibonacci retracement, sebelum mampu rebound secara terbatas. Pada dasarnya, makin kecil retracement atau penurunan sebelum suatu bullish reversal, makin kuat bursa saham untuk meneruskan penguatannya.

Maka pelemahan dalam beberapa bulan terakhir ini sama sekali tidak menumbuhkan kepercayaan bahwa bull market akan bertahan, dan malahan memberikan tanda untuk awalnya bear market yang berkepanjangan.

Apabila Anda masih saja kurang mempercayai kenyataan bahwa bursa saham AS telah kehilangan momentum-nya, mungkin dua chart berikut ini akan menyadari Anda akan hal tersebut. Grafik diatas ini misalnya memberikan bukti klasik untuk sebuah bear market, yaitu MA-50 (harga rata-rata selama 50 hari perdagangan terakhir) yang memotong MA-200 ke bawah.

Kemudian trend line yang terbentuk dari level terendah pada tahun 2009 di 6469.95, dan bertahan sampai awal kuartal ketiga, baru saja ditembus 6 pekan yang lalu (lihat grafik dibawah ini). Berdasarkan sekian banyak sinyal, saya berani menyimpulkan bursa saham AS kemungkinan besar tidak akan mencetak rekor terbaru tahun ini, dan cenderung menuju ke kisaran antara 8917 dan 9672 dalam jangka menengah, yang masing-masing merupakan 61.8% dan 50% fibonacci retracements dari kenaikan sebelumnya dari 6469 hingga 12876.

September yang kelabu?

Di kalangan investor, September memang dikenal sebagai bulan yang buruk untuk bursa saham. Sejak Dow Jones Industrial Average diperdagangkan di tahun 1896, indeks tersebut rata-rata turun sebesar 1,07% pada bulan September, sedangkan Dow Jones naik rata-rata 0,71% dalam semua bulan lainnya.

Dan … lebih menakutkan lagi, bursa saham biasanya berkinerja buruk sekali pada bulan September jika selama bulan sebelumnya melemah secara signifikan. Justru itulah yang terjadi, dimana S&P 500 jatuh 5,7% dan Dow Jones tergelincir 4,4%. Selanjutnya 2 dari 10 hari terburuk sepanjang sejarah untuk Dow Jones terjadi di bulan lalu, yaitu sebuah kejatuhan sebesar 635 poin pada 8 Agustus dan suatu penurunan sebanyak 513 poin pada 4 Agustus.

Namun seperti dapat Anda lihat pada tabel dibawah ini, pelemahan sebesar 777.68 poin pada tanggal 29 September 2008 tetap saja merupakan kejatuhan terbesar yang pernah terjadi dalam sehari. Penurunan tersebut juga menghilangkan kekayaan pemegang saham senilai lebih dari $1.2 trillion, dan sekaligus membuat sejarah sebab untuk pertama kali kerugian dalam satu hari perdagangan melebihi 1 trilyun dolar AS.

Memang bursa saham AS mungkin memperoleh sebuah dorongan dari the Fed jika bank sentral AS mengumumkan stimulus tambahan dalam bentuk quantitative easing, tetapi kita harus menunggu sampai 21 September untuk itu. Sebaliknya apabila the Fed ternyata mengejutkan pelaku pasar dan tidak menerapkan QE3, bursa saham berpeluang jatuh bebas.

Maka perlu diingat bahwa secara historis Dow Jones seringkali mencetak major lows pada bulan September dan Oktober. Oleh karena itu, Anda mungkin akan mendapatkan sebuah kesempatan emas untuk mengakumulasi saham-saham dengan harga yang lebih murah – terutama di negara berkembang seperti Indonesia – selama dua bulan kedepan, asalkan perekonomian dunia tidak mengalami sebuah resesi ataupun depresi.

Kondisi teknikal terkini

“A counter-trend rally may be in the making, but it could be short-lived from the perspective of magnitude or duration. Until the economy offers better clues of its recovery, we advise a cautious approach.”

-Sam Stovall, chief investment strategist at Standard & Poor’s-

Setelah pelonggaran moneter atau QE2 dari the Fed berakhir pada 30 Juni lalu, Dow Jones anjlok lebih dari 2000 poin (lihat grafik dibawah ini). Meskipun demikian, Investors Intelligence mengatakan, “With the market down 11 percent in August alone, the idea that the market is not in full panic mode could indicate that there is more – significantly more – room to the downside.”

Saya sendiri sepenuhnya setuju dengan pernyataan tersebut dari Investors Intelligence. Masih terlalu banyak analis maupun investor merasa sangat optimis mengenai arah pergerakan bursa di masa yang akan datang, dan bahkan sama sekali tidak memikirkan skenario terburuk dapat terwujud dalam jangka pendek.

Walaupun bank sentral AS misalnya memutuskan untuk membeli US Treasuries, mortgage-backed securities atau aset yang lain, bisa saja bahwa kenaikan pasar hanya bertahan sebentar karena investor menurunkan estimasi mereka terhadap pendapatan perusahaan pada tahun 2012. Jadi jangan menjadi lengah maupun berpuas hati, dan bertindaklah secara bijaksana.

Dalam jangka pendek, suatu flag atau bendera terlihat dengan jelas pada daily chart dibawah ini. Pola harga tersebut pada umumnya merupakan sebuah periode dimana bursa “beristirahat” atau berkonsolidasi sebelum melanjutkan pergerakannya sesuai dengan arah sebelumnya.

Maka boleh dikatakan bahwa probabilitas cukup besar Dow Jones akan anjlok kembali ke target berikutnya di sekitar 9025 setelah menembus support dari flag secara signifikan. Untuk menemukan target itu, Anda hanya tinggal mengambil kisaran dari penurunan sebelumnya (2147 poin dari 12751 hingga 10604), dan menguranginya dari level dimana benderanya pecah ke bawah.

Bagaimana dengan IHSG?

Investor di bursa saham Indonesia sungguh beruntung sekali, sebab hanya indeks saham Indonesia, Thailand dan the Philippines mampu bertahan di atas MA-200 masing-masing mereka. Seperti dapat Anda lihat pada grafik mingguan dibawah ini, sejak kuartal kedua 2009 setiap koreksi tertahan oleh SMA-40 – yang sebetulnya sama dengan MA-200 pada daily chart – dan tidak sekalipun IHSG ditutup di bawahnya.

Maka boleh dikatakan bursa Indonesia secara terus-menerus memperlihatkan keperkasaannya dibandingkan bursa yang lain. Meskipun begitu, koreksi terbesar sejak tahun 2008 (dari sekitar 4200 hingga 3590 atau sekitar 14,5%) mengindikasikan suatu pemburukan teknikal yang perlu diwaspadai dengan seksama (lihat grafik dibawah ini). Khususnya level tertingginya selama ini di sekitar 4200 harus dipecahkan terlebih dahulu, untuk memastikan koreksi yang lebih dalam tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Apakah nasib Amerika Serikat akan sama dengan Jepang?

“Technically speaking on the S&P 500 index, we should point out that twoof our longer-term moving averages were violated in bearish fashion – the 15-month and 45-month moving averages. In fact, there are only two occurrences of the 45-month moving average being broken since 1980, which rather interestingly occurred during the past two bear markets – which suggests a bear market has indeed begun. In each of the previous cases, the S&P 500 bottomed -27% and -33% below this level. At present, the S&P stands a mere -4% below this level, which would lead one to believe that another 20% to 25% decline is in order. This is serious stuff to be sure.”

-Richard Rhodes, The Rhodes Report-

Grafik dibawah ini membandingkan S&P 500 pada saat ini terhadap indeks saham Nikkei selama lost decade-nya di Jepang. Menurut penghematan saya, chart ini pantas mendapatkan perhatian Anda.

Siapa tahu arah pergerakan bursa saham di Amerika Serikat akan mirip dengan bursa saham Jepang dari tahun 1979 hingga sekarang … Mengapa demikian?

Karena AS telah dan sedang mengambil semua langkah sama seperti yang Jepang lakukan pada tahun 1990an-2000an, yaitu menyelamatkan bank yang seharusnya bangkrut, mempertahankan tingkat suku bunga di sekitar 0% (yang disebut ZIRP atau zero interest rate policy), maupun membanjiri sistem keuangannya dengan likuiditas yang tidak terbatas. Jadi jangan heran apabila pergerakan kedua bursa ini memang searah, dan kini dibayangi koreksi yang tajam sekali setelah menyelesaikan bear market rally-nya selama 2,5 tahun terakhir.

Kemudian grafik diatas ini, yang menampilkan kejatuhan Dow Jones selama the Great Depression, anjloknya Nikkei 225 pada 1989, dan S&P 500 sejak mencapai puncaknya di tahun 2000, memberikan gambaran yang serupa. Terlihat jelas bahwa the Fed mempunyai pengaruh yang besar dalam mempertahankan bull market yang berlangsung sekarang, tetapi sampai kapan?

Maka pada dasarnya kita dipaksa untuk mengikuti the QE game. Dengan kata lain, apakah kita berada diambang sebuah market crash berikutnya atau tidak akan sepenuhnya ditentukan oleh tindakan the Fed maupun bank sentral lainnya di negara maju.

Berdasarkan kenyataan tersebut, saya berpendapat investor sebaiknya wait and see saja sampai ada keputusan dari bank sentral AS pada tanggal 21 September mendatang. Hanya satu hal adalah pasti: VOLATILITAS tetap akan sangat tinggi selama beberapa tahun kedepan seperti awal abad ke-21 ini, yang secara rata-rata telah mengalami tiga kali lipat hari perdagangan dengan kenaikan atau penurunan yang lebih dari 2% dibandingkan 50 tahun sebelumnya (menurut S&P).

Untuk menutup bagian ini mengenai kondisi teknikal bursa saham AS yang sudah cukup panjang, saya hanya ingin menambah dua hal penting:

Jadilah terbiasa dengan volatilitas yang sangat tinggi, dan manfaatkannya dengan sebaik mungkin dengan membeli saham ketika terkoreksi secara dalam dan menjualnya secara parsial pada waktu terjadi kenaikan yang signifikan.
Kemungkinan besar akan paling aman untuk membeli saham setelah Dow Jones membentuk sebuah double bottom ataupun low lebih rendah, yang disertai dengan BULLISH DIVERGENCES di berbagai momentum indicators. Baru setelah itu terjadi, akan saya berani untuk mengatakan bahwa indeks saham AS akan melanjutkan kenaikannya.

Rekomendasi investasi

Selalu ingat bahwa THERE IS ALWAYS A BULL MARKET SOMEWHERE jadi investor setiap saat berpeluang untuk mencari keuntungan lewat pasar keuangan, entah itu dari bursa saham, pasar valuta asing, pasar komoditas ataupun pasar obligasi. Pada akhirnya uang selalu akan lari ke tempat dimana diberlakukannya paling baik dan/atau bisa memperoleh imbal hasil yang terbesar.

Saya berpikir sebagian besar diantara kita mungkin akan setuju bahwa suatu stock market collapse dapat terjadi setiap saat. Kini cukup banyak BOM WAKTU yang dapat meledak secara tiba-tiba, seperti sebuah negara yang gagal bayar hutangnya (Yunani?), suatu bank besar di Eropa yang mengalami kebangkrutan, ataupun Amerika Serikat yang dilanda resesi kembali … Maka investor perlu mencermati apa yang ditulis oleh Sam Stovall dalam weekly commentary-nya: “If the market action in 2008 taught us anything, it was: Be proactive and expect the worst.”

Nah, bagaimana kita mempersiapkan diri sendiri untuk situasi yang terburuk sekalipun, agar kita bisa mengharapkan yang terbaik untuk portofolio pribadi kita? Berikut ini akan saya berikan beberapa rekomendasi, yang mudah-mudahan bermanfaat untuk Anda:

1) Jangan menanamkan 100% dari dana Anda di saham pada saat ini atau dengan kata lain, don’t get fully invested! Alangkah baiknya simpanlah sedikit uang tunai (20% sampai 50%) yang bisa dialokasikan ketika bursa saham mengalami koreksi yang dalam. Seringkali Anda akan mendapatkan kesempatan yang baik untuk menambah saham dengan fundamental yang bagus selama suatu koreksi. Kuncinya adalah KESABARAN karena dalam bull market yang terkuat sekalipun, harga saham kadang-kadang akan turun.

Pada intinya nilai dari sebuah perusahaan yang tercatat di bursa tidak akan berubah sebanyak bursa saham itu sendiri. Maka selama ketidakpastian mengenai pertumbuhan ekonomi dunia masih tinggi, Anda sebagai seorang investor cenderung akan menemukan perbedaan yang cukup besar antara harga saham dan nilai atau value dari sebuah perusahaan.

Oleh karena itu, jika Anda mau mengakumulasi kekayaan dalam jangka panjang sebagai seorang VALUE INVESTOR (bukan seorang TRADER), hal yang paling penting sekarang adalah menyusun “daftar belanja” Anda yang terdiri atas saham yang ingin dimiliki dalam portofolio pribadi.

Terutama di Indonesia, yang merupakan salah satu negara yang paling menarik dalam 5 hingga 10 tahun kedepan, banyak saham menawarkan upside yang sangat menggiurkan. Belilah perusahaan yang memiliki good earnings visibility, memberikan dividen secara regular maupun diperdagangkan pada P/E ratio yang rendah, dan Anda dipastikan akan menuju ke masa depan yang sejahtera!

Terakhir tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa Anda harus membelanjakan semua dana Anda sekaligus, jadi Anda selalu bisa membeli sedikit demi sedikit atau menerapkan dollar cost averaging. Dengan demikian Anda akan mempunyai harga rata-rata yang bagus dan tidak panik pada saat bursa saham turun tajam, sebab Anda justru akan dapat membeli lebih banyak saham pada harga yang jauh lebih rendah.

2) Akhir-akhir ini terasa seolah-olah sistem perbankan Eropa, dan sebagai akibatnya sistem perbankan global makin menuju kepada keruntuhan dahsyat yang berikutnya. Berarti hanya dalam beberapa bulan yang akan datang, bursa saham dunia di negara maju dapat menyentuh kembali level terendahnya pada tahun 2009 atau bahkan jatuh lebih rendah, sementara harga emas berpeluang menguat ke inflation-adjusted high-nya di sekitar $2,400/oz. Jadi untuk sementara waktu, belilah EMAS (sebagai asuransi) dan pertahankanlah CASH (sebagai amunisi untuk membeli saham ketika bursa saham terperosok).

Saya pernah mengatakan sebelumnya, tetapi saya merasa perlu mengulanginya sekali lagi pada bagian ini: setiap investor seharusnya (memiliki/mempunyai) 5% hingga 10% dari portofolionya dalam bentuk emas sebagai suatu downside protection yang bantu meringankan tekanan mental maupun kerugian dari aset lainnya. Makin banyak orang Barat yang cerdas pun berpikir demikian, apalagi dengan real interest rates yang tetap akan negatif dalam jangka waktu yang panjang.

Harga emas masih jauh dari puncaknya, dan saya masih berpendapat emas akan mencapai setidaknya $5,000/oz sebelum bull market ini berakhir. Oleh karena itu, Anda sebaiknya menganggap setiap penurunan sebagai sebuah hadiah atau kesempatan untuk membelinya di harga yang lebih rendah.

Pendek kata, Anda harus melihat emas sebagai suatu mata uang yang merupakan sebuah alternatif terhadap dolar AS (maupun mata uang yang lain seperti euro, yen dan pound sterling) yang akan makin dilirik di masa depan seiring dengan pencetakan uang dalam jumlah yang tidak terbatas oleh Amerika Serikat dan berbagai pemerintahan lainnya (lihat grafik diatas ini).

3) Dengan negara maju yang makin membatasi stimulus fiskal dan cenderung menekankan penerapan austerity measures untuk mengurangi defisit anggarannya, the Federal Reserve bersamaan dengan bank sentral lainnya mungkin saja akan terpaksa untuk mengumumkan quantitative easing ketiga, keempat, dst. Apabila hal tersebut terjadi, yakinlah bahwa dolar AS akan terpuruk dan pada gilirannya harga komoditas naik.

Seperti C. Martenson menulis dalam artikel yang berjudul Why Commodities Are the New Safe Haven, “For those looking to preserve the purchasing power of their wealth, it’s important to understand the growing momentum in the global mindshift away from paper assets towards more tangible stores of value.” Dengan kata lain investor secara pelan tetapi pasti akan memindahkan dananya dari PAPER ASSETS – khususnya uang kertas – kepada REAL ASSETS seperti komoditas, yang memiliki nilai intrinsik yang jelas.

Secara teknikal pun, the Continuous Commodity Index (CCI) menunjukkan pasar komoditas secara umum masih kuat, yang dibuktikan oleh pembentukan sebuah bull flag, yang disertai Relative Strength Index (RSI) dan MACD yang naik (lihat grafik dibawah ini).

Perhatikan juga bahwa indeks ini sebelumnya mengalami kenaikan sebesar 43% selama 8 bulan dari Juli 2010 hingga April 2011, setelah berkonsolidasi dalam pola serupa. Memang tidak ada jaminan apapun bahwa harga komoditas akan kembali melonjak, tetapi jika mesin cetak dijalankan tanpa henti lagi, jangan terkejut itulah justru yang akan terjadi.

Kesimpulan

“The whole current mess reminds me a lot of 1929-30. After the crash of ’29, the stock market roared higher, even as the economy was simultaneously weakening. When the great post-crash rally died in April 1930, the market turned down with a vengeance, and the Great Depression began. … The market is probably now in the process of forming a complex top. If the market now turns down convincingly, we could see the beginning of Great Depression No. 2.”

-Richard Russell-

Sebagai penutup dari artikel panjang ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk direnungkan:

Kini, hanya ada dua hasil akhir yang mungkin akan tercipta. Pertama pembuat kebijakan bisa mendukung “quantitative easing to infinity”, yang akan menopang perekonomian dunia untuk sementara waktu tetapi pada akhirnya mengakibatkan HYPERINFLATION. Atau … kedua, penghematan pengeluaran pemerintah menyebabkan sebuah deflationary economic collapse atau the GREATER DEPRESSION, yang kemungkinan akan membuat depresi selama tahun 1930an kelihatan kecil.

Comstock Partners dalam market commentary-nya yang tertanggal 18 Agustus 2011 menyampaikan analisa yang tajam: “We believe that the market has now entered a major downtrend. It is a mistake to dismiss the slide we’ve seen to date as mindless and devoid of fundamentals as many strategists maintain. These are not just scary headlines – they are scary fundamentals. As usual, there will undoubtedly be some more sharp rallies that will be interpreted as new bull markets. In our view, however, the bear market has only begun, and has a long way to go.” Kalau seandainya begitu, rupanya bursa saham benar-benar akan menguji kesabaran kita dalam beberapa bulan yang mendatang.

Masalah utama yang akan melambatkan pertumbuhan ekonomi dunia adalah KELEBIHAN HUTANG. Secara sederhana, banyak orang maupun negara menghadapi jumlah hutang yang mereka tidak bisa lunasi. Meskipun begitu, berbagai pemerintahan dan bank sentral di seluruh negara Barat tanpa hentinya menampal bailouts, jaminan, paket penyelamatan dan restrukturisasi hutang, dan dengan demikian coba melawan hukum ekonomi. Namun semua orang yang masih waras mengerti bahwa negara, dan juga orang maupun perusahaan, yang berhutang secara berlebihan pada akhirnya akan bangkrut. Jadi makin lama bank sentral dan pemerintahan dari negara Barat berusaha untuk menunda defaults yang tidak terhindarkan, makin lama dan menyakitkan investor akan menderita!

Dalam sebuah CNN poll yang belum lama dilaksanakan, 48% mengatakan Great Depression yang berikutnya kemungkinan akan terjadi pada tahun depan. Ini merupakan persentase yang tertinggi yang pernah tercatat untuk prediksi suram tersebut.
Yang paling menyedihkan adalah bahwa tidak ada “pil ajaib” untuk memulihkan kondisi perekonomian. Jika memang ada, bukankah sudah pasti “ditelan” dari dulu? Memang the Fed dapat mencoba QE3 yang jauh lebih besar, tetapi itu hanya akan menaikkan tingkat inflasi maupun menambah jumlah hutang publik, dan mendongkrak ekonomi sebentar saja.
Apabila sebagian besar orang sedang mengharapkan QE3 dan berpendapat the Federal Reserve akan mengumumkan stimulus tambahan pada rapat FOMC berikutnya pada tanggal 20-21 September mendatang, bukankah seharusnya hal tersebut sudah mulai terdiskonto dalam harga pasar pada saat ini?

Bill Bonner belum lama ini mengatakan, “The Era of Financial Repression is here. The financial world will be jumping from temporary crisis to temporary crisis. The solution will always be to borrow and print more money.” Tentunya ini akan mempunyai dampak yang cukup signifikan terhadap berbagai asset markets kedepan.

Lebih lanjut Bill Bonner juga berkeyakinan bahwa “The bear market is back. By our reckoning, the Dow should fall below 5,000 before it is over. Most likely, it will not be a short, quick collapse. Instead, it will be a long battle … stretched over many years … with the feds fighting over every inch.” Saya sendiri tidak dapat mengungkapkannya dengan kata yang lebih indah jadi saya mengutip beliau secara literal saja. Dan … hal yang paling membuat saya penasaran adalah bahwa the inflation-adjusted Dow, yang selama 111 tahun terakhir diperdagangkan didalam an extremely long-term upward sloping trend channel (menurut www.chartoftheday.com), memang menunjukkan suatu target koreksi antara 4,000 dan 5,000 wajar sekali (lihat grafik dibawah ini).

Sebagai catatan, saya hanya mengamati pasar dan juga tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tetapi apa yang saya melihat pada saat ini memang tidak begitu meyakinkan. Sebaiknya hati-hatilah dan gunakan stop loss yang ketat untuk menghindari kerugian yang terlalu besar jika ternyata pasar benar-benar anjlok.

Selamat berinvestasi, dan semoga sukses dan sehat selalu!

Info Saham KBRI : saham murah yang terabaikan

24-Sep-10 09:34 | androw:
Jakarta - PT Kertas Basuki Rahmat Tbk (KBRI) menjadwalkan realisasi penggabungan nilai nominal saham (reverse stock) dengan rasio 2:1 pada 28 September 2010. Perdagangan saham dengan nilai nominal baru efektif pada 1 Oktober 2010. Demikian seperti dikutip dari pengumuman perseroan, Jumat (24/9/2010). Total jumlah saham KBRI tercatat sebanyak 3.860.057.540 saham terdiri atas seri A 2.500.000.000 saham dengan nilai nominal Rp 200 per saham serta seri B sebanyak 1.360.057.540 dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Komposisi pemegang saham KBRI adalah Adam Ariaji sebanyak 27,23%, Reksa Dana Danamas Stabil 11,66% dan sisanya publik 61,11%. Usai reverse stock, jumlah saham seria akan menjadi 1.250.000.000 saham bernilai nominal Rp 400 per saham dan saham seri B sebanyak 680.028.770 saham bernilai nominal Rp 200 per saham. Cum reverse stock pada 27 September 2010, ex reverse stock pada 28 September 2010 bersamaan dengan tanggal penggabungan nilai nominal. Recording date pada 30 September 2010, sedangkan perdagangan saham dengan nilai nominal baru pada 1 Oktober 2010. Harga saham KBRI saat ini berkisar antara Rp 50 hingga Rp 52 per saham. Dengan asumsi harga saat reverse stock tetap di kisaran itu, maka harga KBRI akan menjadi Rp 100 hingga Rp 104 per saham.

Harga per hari ini KBRI cuma rp 57 / lembar saham.

Monday, August 22, 2011

Seiring Bursa Eropa, Wall Street Menguat


Seiring Bursa Eropa, Wall Street Menguat
Headline
stockexchange.com
Oleh: Wahid Ma'ruf
Pasar Modal - Senin, 22 Agustus 2011 | 21:19 WIB
INILAH.COM, New York - Bursa Eropa yang positif dan kenaikan harga logam telah mendorong bursa saham Wall Street menguat pada perdagangan Senin (22/8).

Indeks Doe Jones naik 1,2% ke 10.947, indeks Nasdaq naik 1,3% ke 2.372, indeks S&P naik 1,1% ke 1.135. Kenaikan indeks Dow cukup tajam mendekati level psikologis 11.000 dipimpin saham Alcoa yang naik 3,3%.

Sedangkan indeks S&P dan nasdaq menguat setelah jatuh hampir 10%. Indeks S&P didukung sektor teknisi dan manufaktur, demikian dikutip dari yahoofinance.com.

"Untuk sekarang saya anggap masih negatif jadi waktunya menjual. Masih ada dua sentimen negatif dari data ekonomi. Dan yang paling penting adalah pasar menunggu The Fed pada akhir pekan. Meskipun pasar pesimis Fed dapat menambah likuiditas dan menaikkan harga aset," kata Direktur TJIM Institute Services, Jim Iuorio.

Pekan ini, investor menanti kemungkinan Fed melakukan pembelian aset dengan Quantitatif Easing 3 sehingga dapat membantu pasar saham.

Pasar saham Eropa memperpanjang kenaikan didukung saham energi karena konflik Libya memanas lagi. Sedangkan harga emas naik melebihi 1% karena investor memegang komoditas sebagai safe haven di tengah kekhawatiran resesi AS dan krisis utang Eropa.

resource : inilah.com

Clixeria max - Dapat Dollar gratis dari paman sam -- 0.01 $ / click