Showing posts with label berita saham. Show all posts
Showing posts with label berita saham. Show all posts

Wednesday, September 5, 2012

2)Saham ENRG Jadi Top Foreign Sell Selasa (4/9/20120

2)Saham ENRG Jadi Top Foreign Sell Selasa (4/9/201
Headline
inilah.com
Oleh: Wahid Ma'ruf
pasarmodal - Selasa, 4 September 2012 | 19:32 WIB
INILAH.COM, Jakara - Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menjadi top foreign sell mencapai 214,2 juta saham dari volume perdagangan 1,3 miliar saham senilai Rp118,9 miliar.

Demikian mengutip data BEI, Selasa (4/9/2012). Pada perdagangan hari ini, saham ENRG melemah Rp17 di Rp78 dengan frekuensi 7,951 kali transaksi.

Menurut pelaku pasar modal, Sem Susilo, saat ini risiko menahan saham ENRG masih cukup tinggi. Untuk itu disarankan melakukan cutloss mendekati penutupan.

Selanjutnya saham UNSP mencapai 113,1 juta saham dari volume perdagangan 219,6 juta saham. Untuk saham ASRI mencapai 24,05 juta saham dari volume 84,5 juta saham. Saham LSIP mencapai 20,8 juta saham dari volume perdagangan 35,9 juta saham.

Sementara saham GIAA mencapai 8,02 juta saham dari volume perdagangan 36,9 juta saham. Saham BRAU mencapai 7,7 juta saham dari volume 31,7 juta saham. Untuk saham KIJA mencapai 6,8 juta saham dari volume perdagangan 23,2 juta saham. Saham JSMR mencapai 5,3 juta saham dari volume 7,3 juta saham.

Sedangkan saham BWPT mencapai 4,8 juta saham dari volume perdagangan 15,9 juta saham. Saham BKSL mencapai 4,8 juta saham dari volume 46,6 juta saham.

Tuesday, September 4, 2012

Berita saham BUMI & BNBR

Bakrie Gadaikan Saham Bumi

E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
JAKARTA – Kebiasaan Grup Bakrie menumpuk utang terus berlanjut. Kali ini, PT Bakrie and Brothers Tbk. (BNBR) kembali menggadaikan saham anak usahanya, Bumi Plc, untuk mendapatkan dana Rp1,745 triliun. Dana sebesar itu sepenuhnya dimanfaatkan untuk refinancing.
       BNBR bersama Long Haul Holding Ltd. sebagai perusahaan terafiliasi, melakukan kesepakatan utang baru dengan Credit Suisse AG senilai USD437 juta atau setara Rp3,933 triliun pada 12 Januari 2012. Dari jumlah itu, bagian kredit yang diterima BNBR USD193,969 juta atau sekitar Rp1,745 triliun. Tidak disebutkan jumlah saham yang digadaikan.
       ’’Pinjaman tersebut memiliki tenor satu tahun yang akan kami gunakan untuk pembayaran kembali (refinancing) utang lama. Jaminannya berupa saham Bumi Plc,’’ ujar Direktur Keuangan BNBR Eddy Suparno di Jakarta kemarin.
       Seperti diwartakan, BNBR telah menjual 23,8 persen saham Bumi Plc kepada PT  Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk (BORN) senilai USD1 miliar guna mempercepat pembayaran utang lama kepada Credit Suisse. Berdasar laporan keuangan BNBR, total utang yang dimiliki bersama Long Haul kepada Credit Suisse cabang Singapura mencapai USD1,3 miliar (sekitar Rp12,15 triliun). Utang itu dijamin dengan saham Bumi Plc.
       Dari perjanjian tersebut, BNBR memiliki fasilitas kredit USD597 juta hingga 30 Juni 2011. Bakrie telah menggunakan USD542 juta dan akan jatuh tempo pada 2 Maret 2012. Namun, jatuhnya harga saham Bumi Plc di bursa London secara signifikan mencapai 12,42 persen menjadi Poundsterling 8,45 pada 4 Oktober 2011, membuat Credit Suisse meminta BNBR melakukan pelunasan lebih awal.
                Langkah divestasi Bumi Plc terpaksa dilakukan guna menutup utang tersebut. Paska penjualan 23,8 persen kepada BORN itu BNBR masih memiliki saham Bumi Plc. Namun jumlahnya hanya tersisa 23,8 persen dari 47,6 persen kepemilikan sebelumnya.
                Di sisi lain, BORN diketahui menggunakan pinjaman bank yang berasal dari Standard Chartered Bank senilai USD1 miliar guna membeli saham Bumi Plc itu. Uniknya, BORN juga menyertakan saham Bumi Plc yang nantinya akan dimiliki sebagai bagian dari jaminan transaksi utang.
                Saat ini BNBR masih menunggu pembayaran transaksi tersebut dari BORN. Eddy berharap transaksi bisa selesai secapatnya. ’’Kami harapkan bisa selesai minggu ini. Sehingga nanti dananya akan digunakan untuk melunasi utang ke Credit Suisse,’’ ucapnya.
    Transaksi jual beli antara BNBR dan BORN sebenarnya bisa selesai tahun lalu. Namun karena adanya penundaan dalam pelaksanaan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang hendak dilakukan BORN, membuat transaksi itu tertunda. BORN baru mendapat persetujuan pemegang saham pada 30 Desember 2011. Saat ini BORN sedang melakukan finalisasi transaksi baik dengan Standard chartered maupun dengan BNBR.
          BNBR, menurut Eddy, tahun ini fokus dalam pengurangan utang yang dimiliki. Langkah tersebut dilakukan dengan melepas sebagian asset yang dimiliki. Selain menjual sebagian saham Bumi Plc, BNBR juga melepas  sebagian saham  di PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan  PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).
          BNBR melepas 4,30 miliar saham BTEL dengan harga transaksi Rp340 per saham atau senilai total Rp,146 triliun  pada 31 Desember 2011. Dengan pelepasan saham tersebut, sisa kepemilikan BNBR di BTEL saat ini sebesar 8,52 miliar saham atau 29,95 persen dari seluruh jumlah saham yang beredar.
     Sementara untuk UNSP, BNBR melepas sebesar 170,48 juta saham dengan harga transaksi per saham Rp330 atau senilai total Rp56,258 miliar. Dengan pelepasan tersebut,  kepemilikan BNBR di UNSP saat ini tersisa 3,72 miliar saham atau 27,42 persen.
          Masih dalam rangka refinancing, BNBR tahun ini juga berencana melakukan penerbitan obligasi. Hasilnya akan digunakan untuk pelunasan utang medium secured notes (MSN) senilai Rp3,3 triliun dan baru dibayar Rp1,2 triliun di semester I/2011.
    ’’Kami akan terus berupaya mengurangi jumlah utang yang kami miliki,’’ tekadnya. (jpnn/c3/wa

Laba BNBR 2012

Thursday, Jun 28, 2012
Bakrie & Brothers Raih Laba
by Bisnis Indonesia
PT Bakrie & Brothers Tbk pada kuartal I/2012 membukukan laba bersih Rp89 miliar atau membaik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang rugi Rp281 miliar. Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan pada Rabu (27/6) sore, pendapatan perseroan tercatat naik signifikan 147% dari sebelumnya Rp2,85 triliun menjadi Rp7,04 triliun.

Di sisi lain, beban pokok emiten berkode efek BNBR itu juga melonjak menjadi Rp6,61 triliun dari sebelumnya Rp2,06 triliun. Perseroan juga mencatat laba usaha Rp283,64 miliar atau membaik dari sebelumnya menderita rugi Rp24,43 miliar. Adapun pada Januari-Maret 2012 perseroan mencatat rugi kurs Rp4,31 miliar atau memburuk jika dibandingkan dengan Januari-Maret 2011 membukukan laba Rp191,36 miliar.

Kinerja positif laporan keuangan Bakrie & Brothers dimulai sejak laporan keuangan 2011 atau seusai perseroan melakukan kuasi reorganisasi yaitu aksi memperbaiki neraca keuangan tanpa melalui reorganisasi nyata, namun dengan menilai kembali aktiva dan kewajiban pada nilai wajar dan mengeliminasi saldo negatif.

Sepanjang tahun lalu, Bakrie & Brothers membukukan laba bersih Rp132 miliar pada 2011 setelah tahun sebelumnya menderita rugi bersih Rp7 triliun. Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar mengakui salah satu pemicu perseroan mampu mencetak laba bersih adalah tuntasnya kuasi reorganisasi yang dilakukan pada tahun lalu.

Adapun kontribusi pendapatan dari sektor perdagangan dan investasi merupakan yang terbesar terhadap konsolidasi Bakrie & Brothers, mencapai 50% lebih. Laporan keuangan kuartal I/2012 Bakrie & Brothers juga sudah tidak mengonsolidasikan anak usaha PT Bakrie Telecom Tbk.

Hutang UNSP (2) PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) Siap Lunasi Utang Jatuh Tempo

Masalah utang yang membelit PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk sejak beberapa waktu lalu, mulai menemui titik terang. Pengelola perusahaan milik politisi Aburizal Bakrie itu memastikan, Bakrie Sumatera akan melunasi utang obligasi yang akan jatuh tempo dua pekan lagi tersebut. “Dananya sudah siap,” ujar Bambang Aria Wisena, Direktur Utama Bakrie Sumatra, Dengan demikian, utang obligasi senilai US$ 150 juta yang jatuh tempo 15 Juli 2012 itu, akan di-refinancing, tepat waktu.
Hutang obligasi senior dengan tingkat bunga 10,75% akan jatuh tempo tidak lama lagi yakni 15 juli 2012. Peringkat hutang jangka panjang UNSP telah terpotong dari ccc+ menjadi cc. Rencananya UNSP akan melakukan refinancing atas hutang obligasi yang jatuh tempo tersebut., sedangkan mengenai pendaannya masih belum jelas darimana akan dikeluarkan. Posisi kas perusahaan per kuartal pertama 2012 berada pada posisi Rp166miliar, yang artinya hutang obligasi USD150juta masih belum tertutupi. Data keuangan terakhir pada kuartal pertama membukukan penurunan laba bersih 26,22% menjadi Rp99miliar, penurunan ini dikarenakan tingginya beban keuangan yang diderita UNSP yaitu meningkat 16,9% dari kuartal lalu. Perlu diwaspadai nantinya apakah UNSP akan tepat waktu melakukan pembayaran hutang obligasinya, bila tidak maka para kreditor mungkin akan meminta jaminan berupa asset-aset UNSP. Untuk rasio net debt to equity perlu diwaspadai karena berada pada level 85%.

Hutang UNSP

JAKARta. Beban utang masih menjadi momok yang membayangi PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Lembaga pemeringkat global Standard and Poor\'s (S&P) menurunkan peringkat utang jangka panjang UNSP dari semula CCC+ menjadi CC.
Alasan pengguntingan rating adalah Bakrie belum memiliki rencana yang jelas untuk melunasi utang yang segera jatuh tempo. Vishal Kulkarni, analis S&P berpendapat, manajemen Bakrie lamban memfinalisasi penyelesaian utang obligasi berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) senilai US$ 150 juta.
Sedikit kilas balik, pada Juni 2007 lalu, AI Finance BV yang 100% sahamnya dimiliki Agri International Resources Pte Ltd (AIRPL) menerbitkan obligasi senilai US$ 150 juta. Bakrie menguasai 99,02% saham AIRPL. Utang itu berbunga 10,87% dengan harga penerbitan 95,81%, akan jatuh tempo pada 15 Juli 2012.
"Penundaan pembayaran secara substansial akan meningkatkan risiko default bagi AIRPL juga terhadap UNSP," ujar Vishal dalam pernyataan resminya, Rabu (27/6).
Peringkat AIRPL juga terpangkas ke level sama. S&P akan memantau perkembangan penyelesaian utang Bakrie hingga tiga pekan mendatang. "Kami bisa menurunkan peringkat UNSP dan AIRPL hingga level D, jika utang tidak dibayar pada 15 Juli 2012 nanti," kata Vishal.
Sebaliknya, jika anak usaha Grup Bakrie itu berhasil menyelesaikan kewajibannya itu, peringkat emiten perkebunan itu akan naik.
Pengelola Bakrie dikabarkan tengah mencari utang ke untuk refinancing pinjaman yang akan jatuh tempo itu. Namun, manajemen UNSP masih menutup mulut tentang rencana menutup utang lama dengan utang baru. Alasannya, perseroan masih dalam masa black period.
Dijauhi investor
Wilson Sofan, analis Reliance Securities, menilai, penurunan peringkat tentu menjadi sentimen jelek terhadap saham UNSP. "Saat ini, saham UNSP sudah tidak diminati. Ini terlihat dari tren harga yang terus turun," ujar dia.
Pada penutupan perdagangan Kamis (28/6), harga saham UNSP melemah 2,2% menjadi Rp 178 per saham. Harga itu sudah anjlok 68% dari harga di awal tahun ini.
Isu penurunan rating ditambah kondisi fundamental yang juga terpuruk, makin menekan pamor UNSP. Laba bersih Bakrie untuk kuartal I-2012 senilai Rp 84,07 miliar, atau anjlok 63,7% year-on-year (yoy). Kas per akhir Maret turun 42,8% yoy hingga Rp 165,68 miliar.
Wilson memprediksi, harga UNSP akan melanjutkan tren penurunan jangka menengah hingga Rp 123 per saham. "Jauhi sahamnya, bagi yang sudah pegang, bisa cutloss," rekomendasi dia.
Giovanni Aristo, analis Bahana Securities, berpendapat, dalam jangka panjang, prospek bisnis Bakrie masih cerah, tertopang oleh bisnis oleokimia yang tengah berkembang. "Produk itu bebas pajak. Pemain sedikit sedangkan yang butuh banyak," kata dia.
Di tahap awal, biaya pengembangan sektor bisnis itu memang besar. Namun jika sudah berjalan, kontribusinya optimal. Perkiraan Giovanni, pada 2013, Bakrie sudah merasakan efek positif dari pengembangan bisnis kimia.
Tekanan besar terhadap saham UNSP, saat ini, menurutnya tidak lepas dari penurunan harga sawit dan karet di pasar dunia. Selain itu, "Dari sisi good corporate governance, mereka memang tidak bagus," kata dia.
Bahana merekomendasi hold untuk UNSP dengan target harga Rp 280-Rp 300 per saham. Tapi Bahana tak menutup kemungkinan menurunkan target harga.

Saturday, August 25, 2012

Catatan Right Issue dan Reverse Stock FREN

FREN : Ketika Right Issue Bersamaan dengan Reverse Stock Split

JAKARTA - Kontan. Meski terbilang saham tidur, namun manuver yang dipertontonkan efek PT Smart Telecom Tbk (FREN) telah menyedot perhatian pasar dalam dua pekan terakhir. Saham FREN dan waran (FREN-W) bergerak bak roller coaster.
Betapa tidak, pasca menggeber aksi reverse stock dan rights issue, harga waran FREN (FREN-W) sempat meroket. Namun, di saat bersamaan, harga saham FREN justru menukik tajam. Meskipun, harga keduanya sama-sama mulai turun gunung, belakangan ini.
Sekadar menyegarkan ingatan, perusahaan halo-halo ini menggelar dua aksi korporasi dalam waktu berdekatan. Pertama, reverse stock atau membundel saham dengan ratio 20:1. Dus, saham FREN yang semula Rp 50 per saham, berubah menjadi Rp 1.000 per saham. Perdagangan perdana saham hasil bundel ini dimulai pada 16 Februari.
Aksi tersebut dibarengi dengan rights issue. FREN menerbitkan 13,36 miliar saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Setiap pemegang saham berhak atas dua HMETD, di mana satu HMETD berhak membeli satu saham senilai Rp 100 per saham. Ex-date HMETD pun ditetapkan pada 16 Februari.
Alhasil, cara perhitungan harga saham FREN berubah. Menurut Bursa Efek Indonesia, harga teoretis baru saham FREN didapat dari penambahan harga saham pasca reverse stock senilai Rp 1.000 per saham, dengan saham hasil HMETD senilai Rp 200 per saham, kemudian dibagi 3. Muncullah harga Rp 400 per saham.
Sementara, untuk harga waran, pasca dibundel dengan ratio yang sama, berubah dari Rp 14 per waran, menjadi Rp 280 per waran.
Nah, pada perdagangan pasca reverse stock (16/2), terjadilah pergerakan tak wajar. Harga waran sempat meroket hingga 114% menyentuh level Rp 600 per waran. Dengan pergerakan yang fantastis itu, tak heran kalau ada pelaku pasar yang sempat menangguk cuan dari fluktuasi harga waran FREN ini.
Sebaliknya, ada pula yang harus menelan pil pahit, lantaran saham FREN turun tajam di hari yang sama. FREN yang dibuka di harga Rp 400 per saham, menukik turun 25% ke level Rp 300 per saham.
Belum lagi, bagi para pemegang saham ritel. Mereka yang tidak mengeksekusi rights, terpaksa gigit jari lantaran kepemilikannya terdilusi. Pemilik saham yang tak mengeksekusi HMETD memang bisa terdilusi maksimum 66,7%.
Antony Susilo, Direktur Keuangan FREN mengakui terjadinya kerugian di pihak pemegang saham pascareverse stock. Namun, dia menuding kerugian ini lebih disebabkan harga FREN yang sudah terpangkas mendahului mekanisme pasar.
"Ini terjadi karena semula manajemen mengekspektasi harga dibuka di Rp 1.000 per saham, bukan di Rp 400 per saham. Kalau dibuka di level Rp 400, sulit untuk bergeraknya,” ungkapnya, Rabu (22/2).
Antony bilang, pihaknya semula berharap dengan harga pembukaan Rp 1.000 per saham, bisa memberi cukup ruang untuk mempertemukan harga saham baru yang diterbitkan (rights issue) di Rp 100 per saham.
Manajemen FREN memang tak bisa memperkirakan berapa titik baru yang terbentuk di pasar. "Tapi, bila harga saham reverse stock turun, tadinya kami berharap investor dapat insentif dari kenaikan harga saham rights issue. Tapi sulit, karena harga reverse stock FREN dibuka di Rp 400 per saham," imbuhnya.



Fundamental tak mendukung
Sejatinya, investor yang terjebak dan masih tergiur memegang efek FREN, ibarat menanam benih di lahan gersang. Selama ini, saham FREN sepi peminat, bahkan sudah tidur panjang sejak Desember 2009. Atau, tak beranjak dari level Rp 50 per saham. Pasalnya, fundamental dan kinerja perusahaan yang dulu bernama PT Mobile-8 Telecom ini, payah.
Tengok saja, kerugian perusahaan yang saban tahun kian membengkak. Di 2009, FREN mencatat rugi usaha senilai Rp 675 miliar, sementara rugi bersih Rp 675 miliar. Kerugian bertambah di 2010, yaitu menderita rugi usaha Rp 867 miliar, dengan rugi bersih mencapai Rp 1,401 triliun. Bahkan, per September 2011, FREN kembali menanggung rugi usaha Rp 654 miliar, dan rugi bersih hingga Rp 1,813 triliun.
Belum lagi, utang perusahaan menumpuk. Total utang FREN, termasuk utang obligasi, per September 2011 mencapai Rp 8,101 triliun. Jumlah itu melonjak dibanding tahun sebelumnya yang senilai Rp 4,603 triliun.
Adapun, utang obligasinya saja sebesar Rp 879,967 miliar, yang terdiri dari obligasi rupiah senilai Rp 657,553 miliar, dan Global Notes setara Rp 224,414 miliar.
FREN pun sudah beberapa kali default obligasi dan menempuh restrukturisasi. Misalnya saja, penerbitanGlobal Notes (plus opsi konversi saham) senilai US$ 10 juta pada 24 Juni 2011, sebagai restrukturisasi atasGuaranteed Senior Notes senilai US$ 100 juta , yang akan jatuh tempo Maret 2013.
Terakhir, sister company, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) bermanuver menyelamatkan FREN, dengan membeli opsi OWK dari PT Valensia Persada senilai Rp 1 triliun. Obligasi ini bagian dari OWK tahap I sejumlah Rp 2,4 triliun, yang diterbitkan sepanjang Januari - September 2011. Sisa obligasi lainnya dipegang PT Sejahtera Puramas.
Ekspektasi harga yang berbeda
Perdagangan saham FREN menyisakan keganjilan di kalangan pelaku pasar. Lazim atau tidaknya aksi korporasi ganda yang dilakoni FREN, juga soal perhitungan harga teoretis, dipertanyakan. Seorang pelaku pasar yang enggan disebutkan identitasnya mengutarakan, reverse stock berdampak kurang bagus bagi investor ritel. Dia bilang, lazimnya saham hasil bundel selalu hancur-hancuran.
“Ke depan otoritas berwenang perlu meninjau ulang, apakah kebijakan reverse stock, apalagi dibarengirights issue, bisa menguntungkan investor, atau hanya sekadar mengedepankan keuntungan emiten,” tutur sumber KONTAN tersebut, Jumat (24/2).
Jika dihitung, saat ini harga saham maupun waran FREN memang sudah terpangkas tajam. Hingga penutupan Jumat (24/2), saham FREN terperosok ke level Rp 103 per saham, atau anjlok 74,25% dibanding harga awal pasca bundel plus rights issue di Rp 400 per saham.
Sementara, harga waran yang sempat melejit, kini ikut-ikutan tiarap. Sore ini (24/2), FREN-W ditutup di Rp 158 per waran, atau tumbang sebesar 44% pada periode yang sama.
Pengamat pasar modal, sekaligus akademisi UI, Budi Frensidy menuturkan, aksi korporasi ganda seperti yang ditempuh FREN, jarang terjadi. Dia mengaku, tak tahu pasti soal kelaziman aksi ganda semacam itu. Namun, dia menggarisbawahi, sejak awal Bapepam-LK terkesan sulit memberikan izin, meskipun ujung-ujungnya izin tersebut terbit juga.
“Dari sisi emiten, jelas aksi semacam ini dirancang supaya investor tertarik mengeksekusi right, karena iming-iming dapat saham di harga tinggi. Dus, bikin saham lebih likuid,” ujarnya, Kamis (23/2).
Lantas, apa kata Bapepam-LK? Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam M. Noor Rachman mengklaim, aksi korporasi dalam waktu hampir bersamaan itu bukan hal aneh. “Itu (reverse danrights issue) lazim terjadi, bahkan sudah 30 - 40 perusahaan yang melakukan itu,” tukasnya, Jumat (24/2).
Adapun, terkait perhitungan harga teoretis baru saham FREN, Budi mengamini cara penghitungan tersebut sudah tepat. Dia beralasan, karena izin dua hajatan itu sudah diterbitkan bersamaan, tak heran BEI menetapkan harga teoretis dengan memperhitungkan langsung kedua aksi korporasi itu.
Meski pasar kasak-kusuk, namun sejak awal BEI bersikukuh tidak ada kesalahan dalam perhitungan. Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito menjelaskan, perubahan harga itu lantaran pada 16 Februari ada dua kejadian penting yang terjadi pada saham FREN, yaitu reverse stock dan perdagangan baru yang tidak mengandung right (ex.date HMETD di pasar reguler dan negosiasi).
Itu sebabnya, perlu ada harga teoretis baru untuk saham FREN. Di mana perhitungannya dengan mengkalkulasi harga saham setelah reverse stock dengan saham hasil HMETD, kemudian dibagi 3. Hasilnya didapat Rp 400 per saham.
Angka itu telah menghitung right issue, walaupun distribusi right issue baru dilakukan pada 21 Februari. "Perhitungan ini dilakukan saat ex.date HMETD, bukan di saat distribusi HMETD," tukas Eddy.
Herannya, dari pihak emiten mengklaim tidak tahu menahu. Manajemen FREN mengaku, tak menyangka harga FREN menjadi Rp 400 per saham pasca reverse stock. Pengelola FREN baru mengetahui penetapan harga Rp 400 per saham pada hari pertama perdagangan setelah reverse stock, yakni Kamis (16/2) lalu.
“Kami sempat bertanya pada otoritas bursa. Tapi kata mereka memang mekanismenya seperti itu. Rights issue juga diperhitungkan dalam menentukan harga teoretis itu. Kami sebagai emiten tidak bisa melakukan apa-apa," kata Antony.
Waran meroket, BEI tak wajib suspensi
Yang paling fantastis, yaitu akrobat yang diperlihatkan waran FREN, pasca bundel saham. FREN-W sempat meroket 114% hingga menyentuh level Rp 600 per waran pada 16 Februari. Otoritas bursa pun sempat menghentikan sementara perdagangan (suspensi) FREN-W pada sesi I perdagangan Jumat (17/2). Harga waran tersebut bahkan lebih tinggi dari harga saham FREN yang hanya Rp 400 per saham.
Seorang pelaku pasar membisikkan, harga FREN-W meroket lantaran salah satu sekuritas belum menyesuaikan harga waran pasca aksi korporasi. "Ada yang salah posisi jual, beberapa settlement belum menyesuaikan harga beserta jumlah waran setelah reverse stock," ungkap sumber KONTAN, pekan lalu (18/2).
Sejatinya, jumlah dan harga waran FREN ikut digabung dengan rasio yang sama seperti pada saham. Lantaran satu sekuritas tak menyesuaikan skema itu, nasabah menjual waran di harga pasca reverse stock, tapi jumlah warannya tak berubah. Akibatnya, investor menanggung risiko gagal serah saat penyerahan efek, yaitu tiga hari setelah transaksi (T+3).
Misalnya, satu investor punya 400 waran FREN sebelum reverse stock. Pasca aksi itu, waran miliknya semestinya jadi 20 unit. Tapi si investor berpikir masih punya 400 waran dan menjual di harga setelahreverse stock. Dus, ia harus mencari kekurangan waran, yaitu 380 unit. Inilah yang memicu harganya naik.
Sebagai catatan, pada periode 16 Februari, sekuritas yang paling banyak mentransaksikan FREN-W, yaitu Indo Premier Securities, dengan volume pembelian 10.108.000 unit, dan volume jual 10.188.500 unit. Diikuti, ETrading Securities, dengan volume pembelian 9,268.500 unit, dan volume jual 9.137.000 unit.
Direktur Utama BEI Ito Warsito mengamini. Dia bilang, tingginya harga waran FREN di perdagangan 16 Februari, karena ada beberapa perusahaan efek yang lupa, waran FREN mengalami reverse stock alias dibundel 20:1.
“Ada beberapa yang lupa pembundelan, dan akhirnya nasabah mengira warannya masih banyak, lalu menjualnya. Itu menyebabkan kelebihan jual, sehingga si perusahaan efek harus buyback lagi. Di sinilah ada beberapa orang yang memanfaatkan hal itu," jelas Ito, Kamis (23/2).
Sementara, Budi Frensidy melihat, aksi memboyong waran FREN, semula karena investor melihat prospek harga saham FREN yang tinggi di Rp 1.000. Jika, investor beli waran, akan dapat hak untuk mengeksekusi di 2015.
“Kalau terjadi sesuai ekspektasi, yaitu mendapat saham di harga kisaran Rp 1000 pada tiga tahun yang akan datang, itu kan menarik. Namun, setelah melihat harganya turun ke Rp 400, pemegang waran merasa itu tidak bernilai lagi, sehingga melepas waran,” urainya.
Saat ini, harga waran FREN sudah kembali seperti semula, tidak jauh di atas harga saham FREN. Kata Ito, kalaupun, harga waran lebih tinggi dibanding harga saham, bukan hal yang aneh.
"Keputusan investor memilih mana yang dibeli. BEI tidak perlu melindungi sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui investor. Apalagi dalam peraturan tidak disebutkan, jika waran lebih tinggi daripada saham, BEI harus bertindak,” tegas Ito.
Budi menambahkan, dari sisi akademis, ketentuan auto rejection tidak berlaku pada pergerakan harga waran. Dia menilai, aksi suspensi yang sempat dilakukan BEI lebih sebagai early warning bagi investor. “Bahwa naik sampai Rp 600 itu enggak wajar. Namun, mereka memang tidak berkewajiban menyuspensi termasuk mengenakan auto rejection,” tukasnya.
Oleh Dupla Kartini, Anna Suci Perwitasari, Raka Mahesa W, Amailia Putri Hasniawati (dikutip dari www.kontan-online.com)

Friday, August 24, 2012

Rumor saham APLI

APLI: Buyback 10% Sahamnya di Publik

28/May/2012 13:39    sumber: etrading

PT Asiaplast Industries Tbk, emiten plastik lembaran, berniat membeli kembali (buyback) 10% saham perusahaan dari investornya maksimal di harga Rp100.Berdasarkan prospektus rencana pembelian yang dipublikasikan di surat kabar hari ini, 28 Mei 2012, perusahaan yang berkode saham APLI itu akan menggunakan dana sebesar Rp15 miliar untuk membeli 150 juta saham.Dana yang dianggarkan itu termasuk biaya transaksi, komisi perantara, serta biaya lain yang terkait pembelian tersebut. (bisnis/uth)

Right issue ENRG

MedanBisnis – Jakarta. Untuk melakukan refinancing, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) akan melepas saham perseroan ke publik sebesar 10%, dengan harga pelaksanaan saham baru di sekitar Rp185 per saham.
Dengan non-pre emptive right issue tersebut, ENRG akan dapat menjaga rasio DER di level 0.9. ENRG juga berniat untuk menerbitkan obligasi global senilai US$ 600 juta.

Sisa dana obligasi serta right issue akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, serta pendanaan capital expenditure/capex 2012. (inh)

Tuesday, January 24, 2012

ENRG - KINERJA EMITEN: Penjualan Energi Mega tumbuh 122%

>> Bisnis Indonesia

KINERJA EMITEN: Penjualan Energi Mega tumbuh 122%

Large_dgs_5473

Berita Terkait


JAKARTA: PT Energi Mega Persada Tbk, emiten minyak dan gas (migas) menargetkan penjualan tumbuh lebih dari 122% atau lebih dari Rp4 triliun karena mendapatkan tambahan produksi dari blok Offshore North West Java PSC (ONWJ), blok Kangean, dan blok Bentu.
 
Direktur Energi Mega Persada Didit A. Ratam mengatakan pertumbuhan penjualan perseroan yang relatif tinggi itu salah satunya dikontribusikan dari penjualan ONWJ yang diperkirakan mendekati US$300 juta.
 
“Penjualan ONWJ tahun lalu US$256 juta, sedangkan tahun ini tumbuh tapi tidak sampai US$300 juta. Namun itu cukup untuk mendongkrak penjualan perseroan hingga lebih dari Rp4 triliun setelah
dikonsolidasikan dengan ONWJ,” jelasnya hari ini, Jumat, 20 Januari 2012.
 
Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino mengatakan penjualan perseroan dapat tumbuh dua kali lipat karena rata-rata produksi perseroan ikut melonjak dari 16.600 barrel ekuivalen per hari menjadi 40.000 barrel ekuivalen per hari.
 
“Bahkan, puncak produksi kami bisa mencapai 60.000 barrel per hari setelah Kangean dan Bentu mulai berproduksi pada Mei tahun ini,” jelasnya.
 
Saat ini cadangan perseroan mencapai 576 juta barrel terdiri dari 90% gas dan 10% minyak. Cadangan itu naik 8,4% dari posisi akhir tahun 2010 sebanyak 531 juta barel. (LN)

Rumor saham Smartfren

Dikutip dari bisnis indonesia

SAHAM SMARTFREN: Nominal baru efektif 16 Februari 2012

Large_dgs_8832

Berita Terkait

JAKARTA: Perdagangan saham PT Smartfren Telecom Tbk dengan nilai nominal baru diperkirakan mulai efektif pada 16 Februari 2012.

Direktur Keuangan Smartfren Telecom Antony Susilo mengatakan perseroan baru saja memeroleh persetujuan pemegang saham terkait rencana penggabungan nilai saham (reverse stock split) dengan rasio 20:1 dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) hari ini.

Dalam aksi korporasi itu, nilai nominal saham seri A emiten berkode saham FREN itu akan menjadi Rp2.000 per saham dari sebelumnya Rp100 per saham, dan saham seri B menjadi Rp1.000 per saham dari sebelumnya Rp50 per saham.

“Reverse stock sudah dapat persetujuan pemegang saham lalu kami akan laporkan ke Kementerian Hukum dan HAM. Mungkin pelaksanaan dengan nominal baru pada 16 Februari 2012,” ujarnya, hari ini 18 Januari 2012.

Dia juga menyebutkan selain persetujuan reverse stock, pemegang saham juga menyetujui rencana perseroan untuk menerbitkan saham terbatas (rights issue) sebanyak 13,36 miliar saham dengan harga Rp100 per saham.

Dari aksi korporasi itu perseroan akan memeroleh dana segar sebanyak Rp1,33 triliun. Dari dana tersebut, sekitar 75% atau Rp1 triliun akan digunakan untuk melunasi utang dan sisanya untuk modal kerja.

“Saham baru seri C kami keluarkan dengan perkiraan perolehan dana maksimal Rp1,3 triliun. selain reverse stock dan rights issue, pemegang saham juga menyetujui peningkatan  modal dasar menjadi Rp27,77 triliun,” tambahnya.


Selain ketiga agenda tersebut, para pemegang saham juga menyetujui pelaksanaan restrukturisasi Obligasi Wajib Konversi (OWK) untuk meringankan beban bunga perseroan serta menarik minat investor atas opsi OWK yang belum dilaksanakan. (faa)

Clixeria max - Dapat Dollar gratis dari paman sam -- 0.01 $ / click